Meneladani Perjuangan Ibu Kartini untuk Menciptakan Pendidikan Indonesia yang Menjunjung Tinggi Budaya dan Memiliki Karakter Luhur
Meneladani Perjuangan Ibu Kartini untuk Menciptakan Pendidikan Indonesia yang Menjunjung Tinggi Budaya dan Memiliki Karakter Luhur
Kitta Shafira
Universitas DiponegoroPendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia, baik itu pendidikan formal maupun informal. Pendidikan memiliki arti praktis sebagai sebuah proses penyampaian kebudayaan atau proses pembudayaan yang bertujuan untuk menjadikan anak memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, serta pola-pola perilaku tertentu. Dengan mengacu pada pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa di dalam pendidikan terdapat kegiatan transfer nilai budaya dan ilmu pengetahuan. Maka dari itu, penting untuk mengemas pendidikan dengan baik agar proses transformasi tersebut tetap menjunjung tinggi nilai-nilai positif budaya Bangsa Indonesia sehingga dapat menciptakan generasi muda yang memiliki karakter luhur.
Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bangku sekolah, sebab dalam kenyataannya pendidikan bisa diperoleh dari mana, di mana dan kapan saja. Namun, pendidikan pertama yang diperoleh oleh seorang anak adalah dari keluarga yaitu dari ayah dan ibu mereka. Sebagaimana mestinya, kedua orang tua harus bisa mendidik anak dengan baik dan sesuai norma yang ada. Butuh kerjasama diantara ayah dan ibu untuk menciptakan generasi yang cerdas dan berkarakter luhur. Dengan begitu, tidak hanya ayah yang harus berpendidikan tetapi ibu juga harus berpendidikan.
Di masa lalu, pendidikan Indonesia dapat dikatakan masih terbelakang dan menitikberatkan hanya untuk kaum pria saja. Dahulu, pria diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, akan tetapi wanita yang sudah menginjak pubertas harus dipingit dan tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan. Sebab tidak adanya kesetaraan hak menimba ilmu antara pria dan wanita inilah yang membuat Ibu Kartini tergugah hatinya dan mulai memperjuangkan wanita dalam dunia pendidikan. Dalam perjuangannya, Ibu Kartini mendapat banyak penolakan dan penentangan terlebih dari pihak keluarga. Tetapi tekadnya sungguh besar, berbagai cobaan yang ada mampu dihadapinya dan untuk membuktikan bahwa yang dilakukannya itu adalah hal yang benar maka dalam perjuangannya ia tetap memperhatikan nilai-nilai positif budaya dan norma sosial yang berlaku di masyarakat yaitu misalnya memiliki rasa hormat, sopan santun terhadap sesama, dan saling menghargai jika terdapat perbedaan. Karena bagi Ibu Kartini, jika yang diperjuangkan hanya sebatas hak dalam pendidikan tanpa adanya nilai lebih dari pendidikan yaitu budaya dan norma maka pendidikan tidak akan memiliki dampak besar untuk menciptakan generasi yang unggul untuk peradaban.
Gagasan demi gagasan dari Ibu Kartini ini sungguh luar biasa, terbukti dalam salah satu suratnya yang berisi bahwa cita-cita mulia Ibu Kartini bukanlah menjadikan wanita sebagai saingan pria dalam perjuangan hidup. Baginya, wanita perlu pendidikan karena dalam keyakinannya ia percaya bahwa seorang ibu adalah madrasah pertama dan memiliki peran besar untuk mendidik anak-anaknya. Wanita yang berpendidikan dan berwawasan luas tentu akan lebih memahami perkembangan zaman dan lebih mudah dalam mencetak generasi cerdas yang berbudi pekerti luhur. Kemudian, jika wanita dan pria sama-sama berpendidikan maka dalam menjalankan fungsi keluarga yaitu pendidikan pertama bagi anak-anaknya cenderung akan berjalan lancar. Selain itu, perjuangan Ibu Kartini inilah yang akhirnya membuat wanita di zaman sekarang dapat berpendidikan tinggi dan dapat membuktikan bahwa wanita dapat bekerja bersama dengan pria tanpa harus mengecilkan hak-hak yang dimiliki seorang pria.
Alangkah baiknya jika perjuangan Ibu Kartini ini dapat dijadikan teladan bagi orang tua dan anak-anak muda di Indonesia, tidak terbatas wanita, pria pun perlu meneladaninya. Sekarang ini, tantangan dan persaingan zaman tentu lebih ketat terlebih nilai budaya dan norma sosial mulai luntur, maka dari itu perlu untuk orang tua lebih banyak belajar dan menambah wawasan agar dapat mengawasi dan memberi contoh yang baik dan benar kepada anak-anaknya. Karena dengan pengawasan dan pendampingan orang tua yang baik akan membentuk anak yang tidak hanya berpendidikan tetapi juga tetap mempertahankan nilai dan norma yang ada serta memiliki karakter luhur. Begitupula dengan generasi muda dapat meneladani perjuangan Ibu Kartini melalui sikap dan perilaku yang dicontohkannya, seperti jiwa rela berkorban demi Bangsa Indonesia, semangat berjuang dan pantang menyerah, maupun cerdas dan tetap santun dalam bersikap. Hal-hal semacam itulah yang perlu dicontoh anak muda masa kini agar bisa menjadi generasi yang memajukan peradaban pendidikan Indonesia. Lewat keteladanan dari perjuangan Ibu Kartini inilah kita semua dapat saling memahami antara satu sama lain dan semakin meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia serta semakin mencintai Bangsa Indonesia tercinta.
Menilik kembali pada perjuangan Ibu Kartini ini, harusnya kita bisa membuat pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Pendidikan bukan hanya sebuah proses transfer ilmu yang ketika selesai lalu dilupakan. Tetapi kita harus bisa mengambil nilai-nilai yang ada dalam pendidikan yang mana dapat kita terapkan dalam kehidupan ke depan. Berpendidikan bukan berarti kita menjadi orang yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas saja. Berpendidikan yang sebenarnya adalah ketika kita mempunyai ilmu tetapi juga mau berbagi kepada orang lain dan semakin rendah hati. Jadi, jangan pernah merasa diri paling tinggi saat sudah mempunyai ilmu, sebab ilmu yang sebenarnya adalah kepemilikan karakter yang luhur dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai bangsa. Maka dari itu, mari kita bergerak bersama untuk memajukan pendidikan Indonesia.
Komentar
Posting Komentar