Keluarga Sebagai Pendidik Karakter Anak

Keluarga Sebagai Pendidik Karakter Anak

 

Medina Hafizha Iredifa

Universitas Pendidikan Indonesia

 

Pendidikan karakter merupakan rangkaian sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi aspek pengetahuan, kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Sistem penanaman nilai karakter dilakukan secara berkelanjutan dan terus-menerus sampai muncul pembiasaan pada sikap dan perilaku anak sesuai nilai norma dalam masyarakat. Hal ini juga mengandung maksud agar anak memperoleh pengalaman hidup yang utuh sejak perkembangan pertamanya yang dapat membentuk karakter pada anak. Karakter dari setiap anak harus dapat dikembangkan. Melalui pembiasaan yang diterapkan kepada anak mulai dini di dalam keluarga diharapkan guru dapat memberikan arah dan pedoman bagi anak untuk bersikap dan berperilaku sebagaimana mestinya.

Karakter yang dibentuk pada anak melalui pembiasaan penanaman nilai-nilai lebih menekankan tentang nilai kebaikan serta memberikan arahan dan pemahaman tentang nilai perbuatan yang dianggap buruk. Nilai kebaikan dan keburukan dibangun melalui pemahaman, penghayatan dan pengalaman langsung pada kehidupan sehari- hari, sehingga nilai kebaikan dan keburukan bukan hanya sebagai pengetahuan. Harapan dari penekanan pada nilai kebaikan adalah terbentuknya anak yang mempunyai kemampuan pemahaman dan penerapan tentang nilai-nilai kebaikan sehingga  menjadi  sebuah  tahapan  terbentuknya  karakter  pada  anak  yaitu tahu, paham kemudian mau melaksanakan karakter yang baik dalam kehidupan sehari- hari.

Tahap pembentukan karakter pada anak tersebut sejalan dengan pendapat Thomas Lickona, yang menyatakan bahwa tentang tiga aspek karakter yang baik yang harus terintegrasi di dalam proses pembentukan karakter anak. Tiga aspek tersebut adalah :

  1. Knowing the good (moral knowing), artinya anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan yang harus diambil dan mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Membentuk karakter anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal- hal yang baik, namun mereka juga harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut. 
  2. Feelling the good (moral feeling), artinya anak mempunyai kecintaan terhadap kebajikan dan membenci perbuatan buruk atau anak lebih menekankan kebaikan daripada keburukan. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Pada tahap ini, anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dilakukannya. Sehingga jika kecintaan ini sudah tertanam, maka akan menjadi kekuatan yang luar basa dari dalam diri anak untuk melakukan kebaikan dan “mengerem” atau meningalkan perbuatan negatif. 
  3.  Acting the good (moral action), artinya anak mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya. Pada tahap ini anak dilatih untuk melakukan perbuatan baik, sebab tanpa melakukan sesuatu yang sudah diketahui atau dirasakan tidak akan ada artinya.

Proses pembentukan karakter anak yang meliputi beberapa tahapan tersebut tentunya harus dilaksanakan semenjak dini. Proses tersebut hanya akan dapat terlaksana di dalam lingkungan keluarga. Orang tua memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh dalam mendidik dan membimbing anak orang tua sangat berperan dalam mempersiapkan generasi penerus. Hal ini merupakan implikasi dari proses kehidupan seorang anak tak lepas dari keluarga (orang tua), karena sebagian besar waktu anak terletak dalam keluarga. Peran orang tua yang paling mendasar adalah membentuk karakter anak sebagai bekal hidup.

Proses pendidikan karakter anak dalam keluarga dapat dilakukan oleh orang tua tanpa harus mempunyai gelar khusus, sekolah, atau training khusus karena pendidikan di dalam keluarga berlangsung secara alami tanpa direkayasa. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua untuk melasanakan pendidikan karakter bagi anak yaitu dengan menggunakan beberapa cara antara lainketeladanan, pembiasaan, nasehat dan hukuman serta motivasi terhadap anak. Beberapa cara tersebut dijabarkan sebagai berikut :

  1. Keteladanan

Keteladanan dalam proses pendidikan adalah bagian dari sejumlah cara yang paling efektif untuk mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual dan sosial. Orang tua merupakan contoh ideal dalam pandangan anak yang tingkah laku dan sopan santunnya dapat langsung ditiru dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua menjadi guru sekaligus model pembelajaran bagi anak dalam proses pendidikan karakter di dalam keluarga. Keteladanan yang ditunjukkan orang tua kepada anak dapat melekat sebagai ciri khas sikap perilaku anak dalam pergaulan di masyarakat.

Proses pendidikan karakter dalam keluarga dengan keteladanan dapat diterapkan orang tua dengan memberikan teladan dalam bersikap, sebagai contoh adalah orang tua memberi teladan dalam beribadah tepat waktu, berkata jujur, bersikap saling menyayangi dan mengasihi antar anggota keluarga, memberi teladan sikap dan tutur kata yang baik ketika berbicara dengan orang yang lebih tua ataupun dengan teman sebaya agar tercipta hidup rukun. Sikap tersebut akan ditiru dan menjadi contoh bagi anak. Hendaklah orangtua selalu memberikan contoh yang ideal kepada anak-anaknya, sering terlihat oleh anak melaksanakan sholat,bergaul dengan sopan santun, berbicara dengan lemah lembut dan lain-lainnya.

2.     Pembiasaan

Tumbuh dan berkembangnya karakter anak diawali oleh pembiasaan hal-hal yang sifatnya merujuk pada kebaikan. Hal ini tentu saja untuk menjaga keseimbangan jasmani dan rohani anak. Pembiasaan karakter pada anak tidak akan muncul secara tiba-tiba melainkan perlahan-lahan, lambat laun karakter tersebut akan tumbuh dan melekat pada diri anak sehingga menjadi sebuah bagian dari diri pribadi anak. Contoh pembiasaan sesuai nilai karakter yang dapat diajarkan kepada anak seperti membiasakan mengucapkan salam tatkala memasuki rumah, membiasakan hidup bersih, membiasakan hidup disiplin, membiasakan berpamitan dan mencium tangan orang tua tatkala hendak bepergian.

Pembiasaan pada anak tersebut mempunyai tujuan utama tatkala anak sudah tumbuh menuju proses pendewasaan, ia akan terbiasa melaksanakan ajaran-ajaran kebaikan dan tidak merasa berat untuk melaksanakannya. Pembiasaan sikap tersebut dilakukan secara berulang-ulang dan dalam kondisi yang teratur sehingga menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itulah yang nantinya membuat anak cenderung melakukan sikap yang baik dan meninggalkan sikap yang buruk.

3.      Nasehat dan Hukuman

Nasehat merupakan petunjuk dari orang tua kepada anak tatkala ada ketidak cocokkan antara sikap anak dengan nilai karater yang seharusnya dilaksanakan. Nasehat yang diberikan orang tua kepada anak dapat menjadi tolak ukur dan membuka pemikiran baru bagi anak serta dapat mendorong anak untuk memperbaiki diri setelah melakukan kekeliruan dalam bersikap dan bertingkah laku yang tidak sesuai nilai karakter.

Sebagai contoh tatkala anak selesai ulangan dan mendapatkan nilai di bawah ketentuan minimal tetapi sang anak tidak berani mengakui di depan orang tua sehingga anak menjadi berbohong. Nasehat yang dapat diberikan oleh orang tua adalah segala bentuk kebohongan dapat menjerumuskan kita ke dalam keburukan, karena apabila kita sekali berbohong maka kita akan menutupi kebenaran dengan kebohongan-kebohongan yang lainnya. Sebagai petunjuk adalah lebih baik kita berkata jujur walaupun kejujuran itu beresiko kepada kita, tetapi dengan keberanian kita berkata jujur maka hidup ini menjadi lebih bermakna.

Selain memberi nasehat, kita juga dapat menerapkan hukuman kepada anak tatkala di melakukan sesuatu yang sehrusnya tidak dilakukan. Pemberian hukuman ini tentu bersifat mendidik dan membuat efek jera pada anak agar tidak melakukan tindakan yang tidak seharusnya. Hukuman tersebut dapat berupa teguran, mendiamkan anak dan juga memberi hukuman fisik yang sifatnya mendidik.

Nasihat dan hukuman berperan untuk memberi gambaran pada anak tentang segala sikap dan perilaku yang kita terapkan serta akibat dari penerapan sikap dan perilaku tersebut. serta menghiasinya dengan akhlak mulia. Nasehat dan hukuman dapat membimbing anak untuk meningkatkan kualitas hidup.

4.      Pemberian Motivasi

Dorongan atau motivasi dari orang tua sangat mendukung kemajuan anak dalam menunjukkan eksistensi dirinya. Tanpa motivasi dari orang tua, anak akan mengalami kesulitan dalam berkembang atau tidak sebaik kemampuannya. Dengan demikian, orang tua harus memberikan motivasi yang positif atau bersifat membangun pada anak agar anak tetap yakin dan berpegang teguh pada apa yang menjadi tujuannya. Namun juga harus digarisbawahi bahwa motivasi yang berlebihan seperti terlalu memanjakan anak, terlalu keras, overprotektif dan lain-lain dapat mengurangi motivasi anak untuk berprestasi dan anak merasa tidak bahagia karena tekanan yang terlalu besar dari orang tua, sehingga anak membalas dengan cara merusak untuk membebaskan diri dari tekanan orang tua.

Pemberian motivasi oleh orang tua dapat berupa penguatan atau penghargaan terhadap sikap perilaku atau usaha belajar anak yang baik.Motivasi yang diberikan dapat pula berupa pujian seperti misalnya “Anak pintar” atau “Ayo kamu pasti bisa Nak”. Selain itu, pemberian hadiah juga dapat digunakan oleh orang tua agar kepada anak ketika menunjukkan sikap dan perilaku yang baik. Pemberian motivasi sebaiknya tidak hanya diberikan pada saat anak berbuat baik, tetapi pemberian motivasi juga dilakukan pada saat anak mengalami kesulitan dalam bersikap/berperilaku atau disaat anak mengalami kegagalan adalah hal wajib bagi orang tua untuk memberi motivasi.

Ada bentuk motivasi lain yang dapat menjadi penyemangat anak, yaitu orang tua harus memperbanyak waktu untuk berkumpul dengan anak agar anak merasa selalu diperhatikan oleh orang tua, sehingga dapat menjadi sumber kekuatan bagi anak dalam mempelajari dan membentuk karakter sebagai identitas diri.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOMUNITAS PEDULI PENDIDIKAN INDONESIA “PELANGI CERIA”

PENGARUH LINGKUNGAN DAN KESEHATAN TERHADAP PENDIDIKAN ANAK

Media Sosial sebagai Media Belajar Daring bagi Siswa