Pendidikan Gizi pada Anak Sekolah untuk Membantu Mewujudkan Generasi Emas
Pendidikan Gizi pada Anak Sekolah untuk Membantu Mewujudkan Generasi Emas
Hanifah Nurul Aulia
Universitas DiponegoroPeriode anak sekolah merupakan masa peralihan dari balita menuju remaja. Pada periode ini, anak masih dalam masa tumbuh kembang, berperilaku aktif dan energik, mulai mengembangkan kemandirian, serta belajar tidak bergantung pada orang tua. Gizi berperan penting pada periode ini untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan. Kecukupan asupan gizi dan kebiasaan makan yang baik dapat meningkatkan gaya hidup sehat dan membantu mencegah masalah kesehatan pada anak.
Pilihan dan kebiasaan makan anak biasanya bergantung pada lingkungannya, terutama keluarga. Namun, anak sekolah cenderung tidak lagi 24 jam berada di bawah pengawasan orang tua atau keluarga, misalnya saat di sekolah. Hal ini menyebabkan pilihan makan anak seringkali terpengaruh lingkungan luar seperti teman sebaya yang tak jarang kurang baik bagi kesehatan, misalnya junkfood, streetfood, dan makanan lain yang kurang terjamin kebersihan dan kandungannya. Oleh karena itu penting untuk melakukan pendidikan terkait gizi dan kesehatan pada anak agar status gizi dapat optimal.
Pendidikan gizi, diharapkan mampu membantu mempersiapkan mewujudkan generasi emas untuk Indonesia. Pada ulang tahun Indonesia yang ke-100 tahun, diperkirakan mayoritas penduduk berusia produktif atau yang saat ini berusia 0-19 tahun. Generasi inilah yang disebut generasi emas yang diharapkan dapat membangun Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju dan sejahtera dalam berbagai bidang. Untuk mewujudkan cita-cita itu, dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul dengan salah satu faktor yang berperan adalah kesehatan dan status gizi yang optimal. Banyak masalah kesehatan, seperti gizi buruk dan stunting sering terjadi pada masa awal kehidupan dapat menghambat proses perkembangan kecerdasan anak. Hal ini tentu akan mengganggu upaya mewujudkan SDM yang berkualitas dan produktif.
Masalah gizi yang sering dialami anak sekolah antara lain gizi buruk, gizi lebih, Kekurangan Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), anemia defisiensi besi, karies gigi dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Masalah gizi ini jika tidak dicegah dan ditangani akan mengganggu pertumbuhan fisik dan proses belajar serta prestasi anak. Misalnya Kekurangan Energi Protein (KEP) atau kondisi dimana asupan energi dan protein anak tidak mencukupi, akan mengakibatkan daya tahan tubuh lemah dan menurunkan konsentasi belajar. Gizi berkaitan dengan kesehatan. Pemilihan makanan sehari-hari akan menyediakan zat gizi esensial yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan fungsinya secara normal. Jika tubuh kekurangan zat gizi tertentu dalam jangka lama dapat mengakibatkan perubahan metabolisme tubuh.
Pada dasarnya, program pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku yang kurang sehat menjadi lebih sehat, termasuk perilaku makan. Pendidikan gizi tentu berhubungan dengan pengetahuan dan praktik gizi. Penerapan pendidikan gizi di sekolah dasar dapat membantu mencegah penyakit yang terjadi akibat kekurangan zat gizi dan sangat penting dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan gizi pada anak usia sekolah. Bahkan, di negara maju, pendidikan dan praktik gizi sudah menjadi prioritas utama. Beberapa negara maju telah mengenal school feeding programme, yaitu program penyediaan makanan untuk siswa dari sekolah yang untuk mengurangi kelaparan dan meningkatkan status gizi anak. Program ini biasanya juga sudah dalam pengawasan ahli gizi.
Salah satu materi yang dapat diberikan pada program pendidikan gizi pada anak usia sekolah adalah Pedoman Gizi Seimbang (PGS), yang meliputi anjuran mengonsumsi beraneka ragam pangan, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melakukan aktivitas fisik, dan memantau berat badan normal. Sosialisasi PGS yang diberikan sejak dini akan memberikan dampak yang besar pada kesehatan anak di masa yang akan datang. Pendidikan gizi cukup efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan perubahan perilaku anak karena dalam usia ini anak cenderung mudah menerima dan menerapkan informasi baru. Dalam penerapannya, pendidikan gizi dapat diintegrasikan pula dengan program yang sudah berjalan di sekolah.
Jadi, pendidikan pada anak dapat memiliki keterkaitan dengan kesehatan individu. Salah satunya adalah pendidikan gizi yang dapat menyadarkan anak untuk dapat lebih memerhatikan makanan yang dikonsumsi dan pemilihan makanan serta jajanan yang lebih menyehatkan. Melalui pendidikan kesehatan pada anak, akan terjadi peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku untuk menjadi individu yang lebih peduli dengan kesehatan dirinya. Sehingga dapat terwujud generasi emas yang cerdas dan produktif.
Sumber :
1. Brown JE. Nutrition through the life cycle 4th ed. USA : Wadsworth. 2011
2. Pritasari, Damayanti D, Lestari NT. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2017.
3. Fadlilah D.R. Urgensi Gizi dan Kesehatan Peserta Didik Tingkat SD/MI sebagai Prasyarat Terwujudnya Generasi Emas. 2015.
4. Irnani H, Sinaga T. Pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan, praktik gizi seimbang dan status gizi pada anak sekolah dasar. Jurnal Gizi Indonesia. 2017; 6(1).
5. Nuryanto, Pramono A, Puruhita N, Muis SF. Pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan dan sikap tentang gizi anak Sekolah Dasar. Jurnal Gizi Indonesia. 2014; 3(1).
Komentar
Posting Komentar