Rokok dan Pendidikan Anak

 Rokok dan Pendidikan Anak

Anika Arum Sari

Universitas Diponegoro

Rokok adalah daun tembakau yang dikeringkan dan dibungkus oleh kertas atau bahan lainnya. Untuk mengonsumsi rokok tersebut dapat dilakukan dengan cara membakar lalu menghisapnya. Dalam satu batang rokok terkandung beberapa kandungan utama seperti nikotin, tar, dan karbon monoksida. Kandungan-kandungan tersebut yang membuat rokok dapat menimbulkan kecanduan, memicu pertumbuhan sel kanker, bahkan menurunkan jumlah oksigen dalam darah. Kebiasaan merokok terdapat pada kalangan, kaum, dan usia yang variatif. Dari kalangan ekonomi tinggi, menengah, hingga rendah selalu ditemukan masyarakat yang merokok. Dahulu kebiasaan merokok hanya dilakukan oleh sejumlah orang dewasa, namun lambat laun kebiasaan merokok mulai dilakukan oleh anak-anak bahkan pada anak-anak usia 7 tahun.

Alasan yang dapat melatarbelakangi kebiasaan merokok pada anak adalah dari diri sendiri (faktor internal) maupun dari berbagai faktor lingkungan seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (faktor eksternal). Kebiasaan merokok karena faktor internal dapat timbul karena seseorang ingin menghilangkan kebosanan, ingin melepaskan diri dari rasa sakit, anggapan bahwa rokok memiliki rasa nikmat, dan menambah rasa percaya diri bagi beberapa orang. Anggapan dari masyarakat bahwa orang yang merokok adalah orang yang sudah dewasa membuat sebagian anak-anak terdorong untuk mencoba kebiasaaan merokok. Selain dari faktor internal, faktor eksternal juga memiliki peran besar mengapa banyak anak-anak merokok. Faktor lingkungan keluarga dapat menimbulkan kebiasaan merokok pada anak karena figur orang tua sangatlah penting. Kebiasaan merokok yang dilakukan oleh orang tua dapat membuat anak ingin mencoba dan meniru hal yang sama. Selain itu, adanya didikan orang tua yang keras, kurang pengawasan, kurangnya pengetahuan yang diberikan orang tua kepada anak dan lingkungan keluarga yang tidak bahagia akan membuat anak lebih mudah memiliki motivasi mencoba rokok daripada anak lainnya. Lingkungan sekolah juga terlibat dalam membuat anak menjadi perokok karena banyak anak-anak yang mengenal dan menjadi seorang perokok karena berawal dari ajakan teman, sahabat, bahkan pacar. Adanya iklan di media massa dan media elektronik juga dapat melatarbelakangi seseorang menjadi perokok.

Kebiasaan merokok akan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Sebagian perokok juga menyadari hal tersebut namun mereka tetap yakin untuk melanjutkan kebiasaan merokok. Padahal, merokok dapat menimbulkan masalah kesehatan maupun memperburuk kesehatan. Banyak masalah kesehatan atau penyakit yang dapat muncul karena kebiasaan merokok seperti penyakit jantung, hipertensi, kanker pada mulut, paru, dan beberapa organ tubuh lainnya. Penyakit asma dan radang saluran napas menjadi lebih buruk karena mengonsumsi rokok. Perokok maupun seseorang yang terpapar asap rokok sama-sama memiliki risiko besar mengalami masalah kesehatan. Akan tetapi, dampak rokok yang baru terasa di kemudian hari membuat masyarakat tetap memilih mengonsumi rokok. Dampak negatif rokok lainnya yaitu jika kita mengonsumsi rokok secara terus menerus akan menimbulkan penumpukan nikotin pada otak. Penumpukan ini mengakibatkan penurunan motivasi, penurunan konsentrasi, dan penurunan daya ingat yang berdampak pada prestasi anak. Penurunan konsentrasi dapat mengakibatkan anak kesusahan dalam menerima materi pembelajaran, akhirnya ilmu dan pengetahuan yang mereka dapatkan akan sangat minim. Penurunan daya ingat juga mengakibatkan anak-anak mengalami kesusahan dalam mengingat materi pembelajaran yang sudah dipelajari.

Dalam mengatasi kebiasaaan merokok diperlukan kerja sama antara individu, masyarakat, dan pemerintah. Peran masyarakat dan individu adalah bisa mengurangi bahkan tidak mengonsumsi rokok sama sekali agar anak-anak atau remaja tidak meniru perbuatan merokok. Peran keluarga sebagai tempat pertama membentuk karakter anak dapat dimanfaatkan untuk memberikan pengetahuan tentang bahaya rokok sejak dini. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran diri bahwa merokok hanya boleh di smoking area bukan di muka umum yang merugikan orang lain. Pemerintah harus tegas dalam mengatasi kebiasaan merokok ini dengan cara menerapkan peraturan, menaikkan harga rokok, dan menyebarluaskan bahaya rokok lebih menyeluruh lagi.

Pada saat ini, banyak anak-anak yang sudah merokok dikarenakan berbagai alasan, baik dari diri sendiri (faktor internal) dan dari lingkungan (faktor eksternal). Merokok menimbulkan dampak negatif seperti adanya masalah kesehatan atau penyakit dan menurunkan prestasi anak. Oleh karena itu, untuk mengatasi kebiasaan merokok ini diperlukan kerja sama dari beberapa pihak.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOMUNITAS PEDULI PENDIDIKAN INDONESIA “PELANGI CERIA”

PENGARUH LINGKUNGAN DAN KESEHATAN TERHADAP PENDIDIKAN ANAK

Media Sosial sebagai Media Belajar Daring bagi Siswa